Uniquesuara.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya angkat bicara mengenai meningkatnya kasus banjir dan longsor di sejumlah wilayah Sumatera, mulai dari Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat. Dalam beberapa pekan terakhir, wilayah Sumatera mengalami cuaca ekstrem yang berakibat pada kerusakan infrastruktur, ribuan warga mengungsi, hingga korban jiwa.
ESDM menegaskan bahwa bencana ini bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi faktor alam dan aktivitas manusia yang memperparah kondisi di lapangan.

Curah Hujan Ekstrem Menjadi Pemicu Utama
ESDM menjelaskan bahwa salah satu penyebab terbesar adalah curah hujan yang sangat tinggi akibat fenomena cuaca global dan regional.
Faktor cuaca yang memicu bencana:
- Anomali suhu permukaan laut yang meningkatkan pembentukan awan
- Fenomena La Niña moderat yang memperbesar potensi hujan
- Perubahan iklim yang membuat pola hujan makin tidak teratur
- Intensitas hujan harian melebihi batas normal musim hujan
Curah hujan ekstrem ini menyebabkan sungai-sungai besar di Sumatera meluap, sementara tanah yang jenuh air mudah mengalami longsor.

Kerusakan Daerah Tangkapan Air Memperburuk Situasi
Selain faktor cuaca, ESDM menyoroti kondisi daerah aliran sungai (DAS) dan daerah tangkapan air yang sudah mengalami kerusakan akibat aktivitas manusia.
Aktivitas yang memperparah risiko:
- Penebangan hutan secara ilegal
- Alih fungsi lahan tanpa kajian risiko
- Pertambangan di daerah kaki gunung
- Pembangunan permukiman dekat bantaran sungai
- Minimnya ruang terbuka hijau di beberapa wilayah kota
Kerusakan vegetasi membuat tanah kehilangan kemampuan menyerap air, sehingga air hujan mengalir langsung ke permukiman dan wilayah rendah.
Kemiringan Lereng dan Kondisi Geologi Sumatera
Sumatera memiliki struktur geologi yang kompleks dan berada di jalur pertemuan lempeng tektonik. ESDM menyampaikan bahwa kondisi ini membuat beberapa wilayah secara alamiah rawan longsor.
Kondisi geologi yang berisiko:
- Lereng curam dengan tanah lepas
- Bebatuan yang mudah retak saat jenuh air
- Aktivitas sesar aktif yang melemahkan struktur tanah
- Daerah pegunungan tanpa tutupan hutan yang stabil
Ketika hujan ekstrem terjadi, lereng yang sudah rapuh mudah runtuh.

ESDM Mendorong Mitigasi Jangka Panjang
Dalam pernyataannya, ESDM menekankan pentingnya mitigasi terpadu untuk mengurangi dampak bencana di masa depan.
Rekomendasi dari ESDM:
- Rehabilitasi hutan di kawasan rawan banjir dan longsor
- Penataan ulang daerah aliran sungai
- Pengawasan ketat aktivitas pertambangan dan perkebunan
- Sistem peringatan dini (early warning system) yang lebih akurat
- Pembangunan infrastruktur adaptif terhadap cuaca ekstrem
ESDM juga menegaskan bahwa mitigasi membutuhkan kerja sama lintas kementerian, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Dampak Banjir & Longsor di Sumatera Masih Terasa
Wilayah Sumatera masih dalam masa pemulihan. Ribuan warga masih berada di pengungsian dan membutuhkan bantuan dasar seperti makanan, air bersih, serta layanan kesehatan.
Dampak yang tengah ditangani:
- Kerusakan rumah dan fasilitas umum
- Putusnya akses jalan nasional
- Rusaknya jaringan listrik dan komunikasi
- Risiko penyakit pasca-bencana seperti ISPA & diare
Pemulihan penuh diperkirakan membutuhkan waktu berminggu-minggu.
ESDM menegaskan bahwa banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera merupakan hasil kombinasi curah hujan ekstrem, kerusakan lingkungan, dan kondisi geologi alami. Mitigasi jangka panjang harus dilakukan agar risiko serupa tidak berulang dengan skala lebih besar.
Bencana ini menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan lingkungan dan kesiapsiagaan menjadi kunci untuk melindungi masyarakat.
Dapatkan Informasi Mengenai Game Terupdate terkini > UniquePetualang
